Kamis, 25 Juli 2013
25 Juli, 6.38 Pagi
6.38 pagi ini. Sebuah kabar baik yang ditunggu akhirnya masuk ke e-mail saya. Akan saya beritahu apa itu ketika sudah jelas saja yaa.
Selasa, 23 Juli 2013
Display Karya Artjog 2013
Ini sedikit foto dari pen-display-an beberapa karya yang dipamerkan di artjog kemarin, foto yang paling bawah adalah karya saya. Oh iya, foto-foto ini tidak diambil oleh saya tapi seorang teman.
Rabu, 10 Juli 2013
ARTJOG 2013!
Berkat bantuan 3Point Award saya berkesempatan ikut pamer karya di gelaran Artjog tahun ini, pamerannya dibuka sabtu tanggal 6 Juli kemarin dan masih akan berlangsung sampai tanggal 20 Juli nanti. Mampir ya teman-teman, lumayan buat ngabuburitan hehe..
Minggu, 23 Juni 2013
Cetak karya (ARTJOG)
Karya saya yang rencananya akan dipamerkan di ARTJOG, tepatnya di Taman Budaya Yogyakarta, beberapa minggu lagi, akhirnya berhasil melewati proses pencetakan. Cukup puas dengan hasilnya tapi tidak dengan cara saya menjalani proses pencetakan karya ini. Amatir. haha
Akan sampai di tangan panitia kira-kira paling cepat besok atau lusa, semoga semua berjalan lancar tanpa rintangan-rintangan yang mengkhawatirkan.
Oh iya, sedikit bocoran ukurannya 120 x 90 cm dan dalam pameran kali ini saya mewakili 3Point Award, bersama dua orang kawan saya yang lain. Info lebih panjang soal ARTJOG bisa dilihat disini --> http://artfairjogja.com/web/?lang=en
Dadah!
Satu titik
Sepertinya saya akan sering mem-posting hal-hal di samping karya nih, setelah sebelumnya hanya kepikiran sketch, hari ini saya pikir mungkin akan menarik jika saya posting juga hal-hal lainnya tapi tentu masih dalam lingkup proses pengkaryaan.
Akhir-akhir ini, sekitar sebulan kebelakang, entah titik apa yang sedang saya alami, baik dalam hidup atau sebutlah juga dalam pengkaryaan, karena mungkin keduanya adalah satu yang tidak terpisahkan (setidaknya bagi saya). Saya mengalami satu titik dimana keinginan untuk mengkritisi diri sedang tinggi-tingginya, menantang diri untuk mempertanyakan apa yang sudah saya lakukan selama ini terutama disini saya fokuskan kepada pengkaryaan.
Mempertanyakan segalanya, dari yang mungkin banal sampai yang selama ini tak menarik minat saya atau bahkan yang saya tolak habis-habisan sebelum sempat mengenalnya.Saya menjadi tak terlalu berlebih-lebihan fokus memelototi karya seniman-seniman apapun, tapi di samping itu, saya mulai rajin membaca atau menonton wawancara-wawancara mereka, saya mulai giat membaca cerita atau bahasan di belakang karya mereka, sampai mencoba sedikit mengenali bagaimana kepribadian dan pemikiran mereka, bahkan saya juga tertarik mendownload cv mereka masing-masing. Duh.
Dari proses ini, saya mendapati diri saya yang berpikir lebih dalam tentang berkesenian, tentang pengkaryaan, yang juga membuat saya merasa bahwa ada hal yang tak kalah penting dari sekedar 'melihat karya seni' dalam wujud akhir, ada proses panjang dari sekedar wujud akhir itu, proses inilah yang saya ingin juga posting di blog ini, saya tak bisa menjabarkannya dengan baik apa aja yang ada dalam proses panjang dalam pengkaryaan itu, jadi saya hanya mengandalkan rasa-rasa dan sedikit akal sehat yang saya punya soal apakah hal tersebut cukup menarik untuk di posting.
Saya tidak yakin benar dari mana asalnya titik ini datang, sempat saya berpikir mungkin karena satu momen dengan seorang wanita yang sedang dekat dengan saya saat itu, yang membuat saya tersadar bahwa ada yang harus saya prioritaskan dalam hidup ini, tapi setelah saya renungi lagi sepertinya bukan itu, sepertinya ada sesuatu yang lebih besar selain dari itu.
Soal titik seperti ini, pastilah kita yang hidup akan mengalaminya, bahkan saya percaya saya mungkin akan menemuinya lagi dan selalu di masa-masa mendatang, tentu dengan warna yang berbeda di titik yang berbeda pula, Semoga.
"Self-improvement is masturbation, now self-destruction..", Tyler Durden.
Akhir-akhir ini, sekitar sebulan kebelakang, entah titik apa yang sedang saya alami, baik dalam hidup atau sebutlah juga dalam pengkaryaan, karena mungkin keduanya adalah satu yang tidak terpisahkan (setidaknya bagi saya). Saya mengalami satu titik dimana keinginan untuk mengkritisi diri sedang tinggi-tingginya, menantang diri untuk mempertanyakan apa yang sudah saya lakukan selama ini terutama disini saya fokuskan kepada pengkaryaan.
Mempertanyakan segalanya, dari yang mungkin banal sampai yang selama ini tak menarik minat saya atau bahkan yang saya tolak habis-habisan sebelum sempat mengenalnya.Saya menjadi tak terlalu berlebih-lebihan fokus memelototi karya seniman-seniman apapun, tapi di samping itu, saya mulai rajin membaca atau menonton wawancara-wawancara mereka, saya mulai giat membaca cerita atau bahasan di belakang karya mereka, sampai mencoba sedikit mengenali bagaimana kepribadian dan pemikiran mereka, bahkan saya juga tertarik mendownload cv mereka masing-masing. Duh.
Dari proses ini, saya mendapati diri saya yang berpikir lebih dalam tentang berkesenian, tentang pengkaryaan, yang juga membuat saya merasa bahwa ada hal yang tak kalah penting dari sekedar 'melihat karya seni' dalam wujud akhir, ada proses panjang dari sekedar wujud akhir itu, proses inilah yang saya ingin juga posting di blog ini, saya tak bisa menjabarkannya dengan baik apa aja yang ada dalam proses panjang dalam pengkaryaan itu, jadi saya hanya mengandalkan rasa-rasa dan sedikit akal sehat yang saya punya soal apakah hal tersebut cukup menarik untuk di posting.
Saya tidak yakin benar dari mana asalnya titik ini datang, sempat saya berpikir mungkin karena satu momen dengan seorang wanita yang sedang dekat dengan saya saat itu, yang membuat saya tersadar bahwa ada yang harus saya prioritaskan dalam hidup ini, tapi setelah saya renungi lagi sepertinya bukan itu, sepertinya ada sesuatu yang lebih besar selain dari itu.
Soal titik seperti ini, pastilah kita yang hidup akan mengalaminya, bahkan saya percaya saya mungkin akan menemuinya lagi dan selalu di masa-masa mendatang, tentu dengan warna yang berbeda di titik yang berbeda pula, Semoga.
"Self-improvement is masturbation, now self-destruction..", Tyler Durden.
Selasa, 04 Juni 2013
Surat Cinta
Dapat surat cinta hari senin lalu dari Yogyakarta. Ada yang lebih menyenangkan dari bangun pagi dan menemukan hal ini?
Rabu, 22 Mei 2013
Postingan Sketch di blog
Mulai sekarang, kalau ada waktu akan memposting juga sketch karya yang sedang dikerjakan dan sketch rancangan display (seandainya sedang ada pameran) di blog ini, untuk sekedar sharing aja sama teman-teman semua.
Di atas adalah sketch untuk pameran yang rencananya akan diselenggarakan bulan Juli tahun ini, di Jogja.
Dalam bikin sketch, saya lebih mengerjakannya kasar saja, apa yang ada di dalam kepala, saya gambar, (dan karena keterbatasan skill dalam menggambar) dan biasanya tidak akan terjadi kesamaan yang persis dengan karya jadinya nanti. Sketch lebih saya fungsikan untuk tidak terlalu membingungkan ketika nanti di lapangan dalam pengerjaan karya tersebut.
Semoga bisa tetap bersemangat untuk terus posting sketch karya saya, sejelek apapun gambarnya. Salam.
Minggu, 09 Desember 2012
Kembali ke Rumah
Setelah beberapa waktu disibukkan dengan beberapa hal yang mengharuskan saya acap meninggalkan rumah, sekarang sudah beberapa hari ini saya akhirnya bisa kembali ke rumah dan senang sekali rasanya.
Sepertinya akan beristirahat sebentar untuk me-refresh pikiran dan kembali pada kegiatan-kegiatan tidak jelas yang memang sudah jadi rutinitas saya jika berada di rumah.
Semoga bisa menyegar lagi dan menyusun apa saja yang akan dilakukan di hari-hari ke depan.
Oh ya.. bahkan saya lupa... sekarang Desember!
Sabtu, 13 Oktober 2012
Senin, 16 Juli 2012
3Point Award 2012
Hola kawan-kawan,
Ada berita baik yang datang bertubi-tubi pada saya seminggu kemarin, salah satunya adalah ini, saya terpilih sebagai salah satu 3Point Artist, dalam 3Point Award 2012 yang diselenggarakan oleh Ruang MES 56.
3Point Award adalah penghargaan yang diberikan oleh Ruang MES 56, kepada 3 orang muda, yang konsisten dalam aktifitas fotografi kontemporer. Para 3Point Artist ini pada akhirnya akan diberi ruang untuk memamerkan karya-karya mereka di ruang-ruang yang disepakati nantinya.
Dan jika semua sesuai dengan yang direncanakan, saya akan mengadakan pameran bersama 2 fotografer lainnya di Jogjakarta, kira-kira akhir tahun ini, namun, saya sendiri mungkin akan banyak beredar di Jogjakarta mulai dari minggu-minggu ini, untuk segala persiapan pendukung pameran, seperti kuratorial dan lain sebagainya. Jika kalian ingin bertemu, bisa kabar-kabaran saja ya, via twitter, e-mail, atau sms bagi yang punya nomor saya hhe.
Perasaan senang ini tak bisa terlalu berlebih-lebihan, karena masih banyak yang harus dilalui dan dipersiapkan untuk sebuah pameran yang tak sekedar ajang pamer-pamer karya.
Tak sabar untuk segera memulai pengalaman ini, dan sampai jumpa di Jogja! :D
*bagi kalian yang ingin tahu lebih dalam tentang ini semua, bisa mampir ke link di bawah
Minggu, 13 Mei 2012
#ProyekVideo
Sepertinya tidak bisa menepati janji untuk meng-upload video gw dalam waktu dekat, maaf yaa hhe. Semoga bisa di-upload di blog ini dalam jangka waktu yang ga lama-lama banget. Sekali lagi mohon maaf..
Berikut saya upload sedikit foto dari proses pembuatan video tersebut termasuk visual yang jadi bagian dari video-nya. Foto yang paling atas di-capture kawan saya Albertus Krisna, dan sisanya saya. Dalam pembuatan video ini saya juga dibantu oleh seorang kawan lagi, Anandiya Army Kasheggy dan tentu saja si cantik Widi Dwinanda sebagai talent dan musik dikerjain sama musisi berbakat bernama Adrian Muhammad. hhe
Salam :)
Berikut saya upload sedikit foto dari proses pembuatan video tersebut termasuk visual yang jadi bagian dari video-nya. Foto yang paling atas di-capture kawan saya Albertus Krisna, dan sisanya saya. Dalam pembuatan video ini saya juga dibantu oleh seorang kawan lagi, Anandiya Army Kasheggy dan tentu saja si cantik Widi Dwinanda sebagai talent dan musik dikerjain sama musisi berbakat bernama Adrian Muhammad. hhe
Salam :)
Sabtu, 28 April 2012
Papan Tulis
Seperti papan tulis, kita bisa menggoreskan apa saja di atasnya, tanda, kata, angka, gambar atau kosong sekalipun. Sama halnya dengan hidup, kau bisa pilih untuk berjalan, berbelok, bernyanyi, menari, duduk-duduk di taman, mendengarkan cerita, bercerita, melompat-lompat atau sekedar diam saja tanpa kata.
Apa yang akan kau goreskan dalam papan tulismu? hidupmu?
*foto diatas adalah foto yang saya ambil dalam sebuah pameran (Re.Claim) di Galeri Nasional, Jakarta, dan karya dalam foto tersebut bukan milik saya, karya tersebut adalah salah satu karya yang di pamerkan dalam pameran tersebut*
Rabu, 18 April 2012
Sebuah Cara Berpisah
Sejak pertemuan hari itu, pertemuan pertama kami, kami jadi berteman cukup baik, tidak seperti sahabat memang, dan ketidakpastian-status-pertemanan itu bukan hanya karena bahasa kita saja yang tidak sama, namun kupikir, juga karena sikap acuh tak acuh kita yang sepertinya memang mengakar dalam diri masing-masing.
Aku tak menampik kita saling menyayangi satu sama lain, kita cukup dekat, setidaknya bagiku, aku mungkin bukan pembaca hati yang baik, namun gelagatnya-yang terkadang manja, membuatku sedikit yakin Ia juga menyimpan rasa yang sama.
Atas dasar rasa itu aku mencemaskannya akhir-akhir ini, sejak Ia tiba-tiba saja menghilang dari pandangan mataku. Hari-hariku.
Sebelum Ia benar-benar tak bisa kutemui, kira-kira beberapa hari sebelum Ia menghilang, aku memang tak cukup sering melihatnya, Ia jarang pula berkunjung ke rumah kecilku-tempat dimana kita acap bertemu dan menghabiskan waktu bersama, hanya satu-dua kali saja seingatku aku melihatnya, itu pun Ia tidak menyapa, Ia hanya datang untuk sedikit minum, lalu kemudian beranjak pergi lagi dan yang kuingat pula, Ia tampak tak sehat dengan langkahnya yang seperti orang mabuk itu. Ya, dia tampak tak baik. Tak seperti biasanya.
Hampir setahun berteman dengannya aku kira aku paham tentang kebiasaannya, baik-buruknya, tentang Ia yang malas mandi, tentang Ia yang suka seenaknya saja tidur di kasurku, sampai pada yang satu ini, tentang kebiasaannya yang lebih memilih menjauh di saat Ia sedang tampak tak sehat. Mungkin menjauh bukan kata yang tepat, Ia mendadak sulit ditemui, Ia menghilang-seperti saat ini. Sampai tahu-tahu beberapa hari kemudian Ia kembali lagi sudah dalam kesehatan yang lebih baik.
Kebiasaanya yang terakhir ini yang cukup mengganggu dan mengherankanku, kami memang tak berbicara pada bahasa yang sama, namun untuk urusan ini, aku sudah mencoba berulang-ulang berbicara dengannya dalam bahasa yang kupikir Ia bisa pahami, segala cara kucoba, semua kemungkinan-kemungkinan yang lain kucoba, namun entah, sepertinya Ia tak mengerti, Ia semakin acuh saja, bahkan tak jarang meninggalkanku dalam keadaanku yang sedang menceramahinya.
Seperti yang kubilang sebelumnya, badannya memang sudah tampak layu saat terkahir aku melihatnya, aku menduga sepertinya kali ini kondisinya mungkin tidak lebih baik dari saat Ia menghilang dahulu dan penyakit ini sepertinya bukan penyakit yang biasa saja pula, karena sampai detik ini Ia tak juga kembali, Ia tak kunjung menjumpaiku..
Seminggu sudah, waktu terlama kita tak menghabiskan waktu bersama, waktu terlama Ia menghilang, pergi..
Aku pernah dengar tentang pedihnya perpisahan dan sebagian orang yang lebih memilih menghindarinya, menghindari perpisahan, menghindari menelanjangi kelemahan diri di depan sesamanya.
Dan jika itu adalah alasannya...sebuah perpisahan yang bijak dari seorang teman spesial yang pernah ku kenal.
*cerita ini terinspirasi dari kucing-kucingku yang mati dalam kesendiriannya*
Selasa, 13 Maret 2012
Proyekan Video
Video. Sebulan kemarin saya disibukkan dengan proyek membuat video, satu proyek yang sebenarnya sudah lama ingin digarap, sekitar setahun yang lalu, namun karena beberapa sebab, tidak kunjung terlaksana.
Dan entah kenapa rasa untuk mewujudkan proyek tersebut tiba-tiba saja hadir kembali akhir bulan januari lalu, mungkin karena resolusi saya di tahun 2012 ini yang memang ingin lebih giat lagi berkarya. Dan kalian tentu pernah mendengar soal, niat baik dan kesungguhan yang tulus akan diijabah oleh yang maha kuasa, saya rasa dalam kasus ini pun begitu.
kenapa saya bilang demikian, banyak yang bisa dijadikan alasan kuat, mulai dari dipertemukan dengan talent yang benar-benar berbakat dan professional bernama, Widi Dwinanda, lalu dibantu dengan banyak kawan yang dengan baik hatinya membantu kerja di lapangan dan menjawab segala pertanyaan saya soal video dan tetek bengeknya, yang memang tidak terlalu saya kuasai (banyak orang yang secara langsung-tidak langsung membantu projek ini), sampai dengan di satu siang bolong tiba-tiba saja mendapat informasi soal festival video, yang pada akhirnya membuat saya semakin bertekad kuat untuk mewujudkan proyek video ini.
Senang sekali akhirnya bisa mengeksekusi ide yang sudah cukup lama terkubur di kepala ke dalam sebuah karya nyata yang berwujud, yang nantinya bisa dinikmati oleh saya dalam kesendirian saya sendiri dan mungkin orang banyak dalam kesendirian mereka masing-masing. yaa..dalam kesendirian, saya menyarankannya untuk dinikmati hanya dalam kesendirian.
Video akan saya upload di blog ini mungkin di akhir bulan maret. semoga suka, dan mari terus berkarya.
Salam :)

Minggu, 08 Januari 2012
Rebmesed
Sebaris kalimat puitis tiba-tiba saja hadir dalam pandangan mata Hena, yang kemudian ia baca dengan pelan-tak terdengar. Dalam pandangan itu, pikirannya mencoba menjelajah ke suatu masa yang telah lalu, recall memory, kapan tepatnya ia menulisnya pada secarik kertas itu.
Tulisan itu memang tulisannya, tulisan yang hanya sebaris itu. tulisan yang sekarang sudah ia ingat betul kapan ia tuliskan, berikut alasan kenapa ia menuliskannya. Kalimat puitis yang tak selesai itu ia tulis di satu sudut kamar, di sebuah rumah kayu bertingkat dua, yang terletak di pojokan jalan di salah satu sudut sebuah desa bernama rebmesed.
Semuanya memang bermuara pada rebmesed, satu desa di negerinya yang begitu tertanam di hatinya. Satu desa yang sebenarnya baru saja ia tinggalkan (lagi) 7 hari yang lalu.
Sebuah desa yang sebenarnya, secara kasat mata tak memiliki perbedaan yang mencolok dengan desa-desa lain di negerinya, namun di rebmesed-lah, sekitar 25 tahun yang lalu, di jumat pagi yang dini, Hena untuk pertama kalinya menyuarakan tangisnya, memperlihatkan senyum kecilnya, menyapa dunia, Ia terlahir di desa itu, di rebmesed.
Mungkin itu pula yang mendasari kenapa rebmesed begitu dalam tertanam di hatinya. Desa yang acap ia sebut sebagai "tempat spiritual". Tapi pikirannya kini, hanya tertuju pada kejadian di desa itu, dua tahun yang lalu.
Di malam itu, ia masih ingat bagaimana seluruh manusia bergegas keluar rumah dan gedung-gedung, berhamburan, berlarian, penuh keceriaan, bersukaria, bersorak-gembira, saling berpelukan, tertawa riang, hingga jala-jalan di rebmesed tertutupi oleh tumpukan manusia yang bersiap merayakan pesta. Pesta yang memang acap diselenggarakan di tanah rebmesed, pesta menyambut sebuah hari baru yang diharapkan membawa keberuntungan, membuka lembaran baru, yang putih-suci, satu hari yang membawa harapan segar, bagi kehidupan milyaran anak manusia kedepannya.
Ia masih ingat pula bagaimana manusia-manusia itu berhitung mundur menyambut pesta yang sudah diambang, "tigaaaa...duaaaaa...saatuuuuuuu!!!", merekapun larut, bunyi riuh terompet melayang bersama angin dan membahana ke seluruh penjuru desa, semua bercampur, melebur menjadi satu, mereka mendadak melupakan segala hal yang menggangu pikiran, untuk sementara melepas segala keputus-asaannya masing-masing, pesta!.
Tapi Hena juga masih ingat betul dimana ia saat itu, saat manusia-manusia itu tumpah ruah di jalanan dalam pesta, dimana ia ternyata tetap tak beranjak dari kasurnya, ia pun masih mengingat benar tentang apa yang ia pikirkan di malam itu, seraya menatap kehidupan yang terjadi di luar jendela kamarnya, soal apakah hanya dirinya sendiri yang tak menyatukan diri dengan lautan manusia itu, soal pertanyaannya tentang orang-orang yang berpesta itu, soal hari yang dipestakan, soal apapun, termasuk soal ratapannya pada hari esok dimana ia harus angkat kaki dari rebmesed.
Dan ia juga mengingat benar bagaimana ia mengambil secarik kertas yang tergeletak di lantai kamarnya..dan menuliskan tulisan yang kini sedang ada dalam pandangan matanya. "untuk rebmesed, terima kasih, yang keseribu kalinya".
Hena pun tertidur, dalam keheningan kamar sehabis hujan..
Dan esoknya ia kembali menyusuri perjalanan hidupnya, pekerjaan, kemacetan, pergaulan...kesehariannya..Ia harus kembali bertemu dengan kesehariannya, untuk kemudian dalam kesendirian yang akan datang lagi dengan tiba-tiba, ia kembali merindui sebuah desa bernama rebmesed. Selalu.
Senin, 12 Desember 2011
Surat Elektronik.
Entah sudah berapa huruf, yang tak disatukan menjadi kata, entah sudah berapa kata yang di-tidak-jadi-kan menjadi kalimat, dan entah sudah berapa banyak kalimat yang tiap katanya terhapus, dipaksa-hilangkan, satu demi satu huruf, hingga kembali seperti semula..kosong, putih.
Dia memandangi detak detik dalam jam dinding, yang terpasang tepat di hadapnya, detik yang berjalan cepat, sekelebat, tak terlihat. Sebenarnya tentang waktu yang bergerak cepat ini, sudah acap mampir ke alam pikirnya berulang-ulang, saat Ia menepi dari pusat dunia, menyendiri. Satu yang di luar jangkauan, yang acap berwujud pertanyaan, tapi anehnya cukup jarang melahirkan jawaban. Berlalu begitu saja, untuk kemudian hadir lagi, dipikirkan lagi, dipertanyakan lagi..dan mungkin tetap tanpa jawaban lagi.
Berulang kali Ia coba merangkai kata, menjadikannya tak hanya sekedar kalimat cantik, yang berdiri sendiri-sendiri, tapi satu cerita. Berulang kali pula Ia menemui kesulitan. Pikirannya terlampau bercabang, tak fokus, dan imajinasinya lahir lemah, layu, mati.
Lama Ia terdiam, dan seperti kata orang-orang, pada saat kau tak melakukan apa-apa selain diam, tanpa kau sadari detik-detik dengan kejamnya yang diam-diam pula, menggerogoti sisa-sisa waktu hadirmu di dunia.
Di antara kesunyian, Suara Jens Martin Lekman, Seorang Swedia yang sesungguhnya tidak pernah Ia jumpai, seketika saja hadir dengan alunan nada yang hadir bagai pelukan, pelukan hangat bagi mereka yang berumah di malam-malam sepi.
tak seberapa keras... tak seberapa pelan..
"but are birthdays happy
or are they just countdown to death?
is there need to worry
there might not be much time left?
I haven't lived my life yet
Then it happens
it just blows your mind
the madness of your life..."
Kini...detik-detik telah menghadirkannya hari yang lain dari sebelumnya. Senin, 12 Desember 2011, dan bebunyian yang keluar dari laptop yang menemaninya sedari tadi, sudah cukup membangunkannya dari tidur yang sesaat.
Sebuah surat elektronik, yang biasa kita akrabi dengan bahasa yang lebih mendunia, E-mail. Dengan kesadaran yang seadanya Ia buka surat itu, dan mendapati sebaris tulisan yang Ia buat sendiri, tepat setahun yang lalu..
"kepada diriku di masa depan...dan lagi, kau kian dekat ke hari akhirmu yang entah kapan, kawan".
*Soal surat elektronik itu, yang kita kirim untuk diri kita sendiri, di masa yang lain, tak usah ada kerut dahi, pusing-pusing...ini memang sedang zamannya. *
tak seberapa keras... tak seberapa pelan..
"but are birthdays happy
or are they just countdown to death?
is there need to worry
there might not be much time left?
I haven't lived my life yet
Then it happens
it just blows your mind
the madness of your life..."
Kini...detik-detik telah menghadirkannya hari yang lain dari sebelumnya. Senin, 12 Desember 2011, dan bebunyian yang keluar dari laptop yang menemaninya sedari tadi, sudah cukup membangunkannya dari tidur yang sesaat.
Sebuah surat elektronik, yang biasa kita akrabi dengan bahasa yang lebih mendunia, E-mail. Dengan kesadaran yang seadanya Ia buka surat itu, dan mendapati sebaris tulisan yang Ia buat sendiri, tepat setahun yang lalu..
"kepada diriku di masa depan...dan lagi, kau kian dekat ke hari akhirmu yang entah kapan, kawan".
*Soal surat elektronik itu, yang kita kirim untuk diri kita sendiri, di masa yang lain, tak usah ada kerut dahi, pusing-pusing...ini memang sedang zamannya. *
Minggu, 04 Desember 2011
Soal meng-enjoy-kan diri
Ini bukan photoshot satu produk jeans atau photoshot sejenis yang lain-lain. Bukan. Foto-foto ini cuma sesi foto iseng-iseng saja. Dan karena kebetulan ada beberapa yang saya suka, maka saya posting dalam blog ini. hehe..
Semoga diri (mu/ku) ter-enjoy-kan.. :D
Sabtu, 19 November 2011
Job!
Foto-foto ini adalah sedikit foto prewed kawan saya, yang saya kerjakan medio bulan agustus-september lalu, yang juga sebagiannya saya posting beberapa waktu yang lalu. Di tengah ketidakjelasan karya-karya foto saya, saya juga menerima job ini loh, hehe. Jadi kalau ada yang tertarik, sila hubungi saya via email tertawasampaipuas@yahoo.com . Salam :D
Senin, 14 November 2011
Lori, Sebuah Dadah.
Jendela, berdiri di antara jejal manusia, mereka yang berkejaran dengan waktu, yang penuh peluh dalam pencarian nafkah, atau mereka yang menunggu atau sekadar duduk-duduk saja di sana, di statiun kereta, di sore hari itu.
Ada satu guyonan menarik tentang kerumunan manusia "burung-burung yang terbang lebih tinggi, tariannya akan terlihat lebih anggun, karena yang mereka lihat adalah indah kebersatuan manusia, tapi ketika burung-burung itu terbang lebih rendah, mendekat, mereka seperti ketakutan karena ternyata yang ada hanya individu-individu berwajah kusut dengan ragam masalah".
Tatapannya terfokus pada wanita di depannya, wanita yang pelan-pelan menjauh dari tempatnya berdiri. Wanita itu akan pergi, mungkin memang tidak terlalu jauh dan mungkin tidak terlalu lama, Jogja, kota yang ia tuju, tentu bisa ditempuh beberapa jam saja dari Jakarta. Namun dalam sebuah perpisahan, yang senantiasa berat kita tinggalkan bukanlah wujud, karena seribu wujud bisa saja datang, melainkan kenangan. Segala kenangan tentangnya yang membuat perpisahan ini terasa lain bagi Jendela.
Gloria, sahabatnya. Jendela biasa memanggilnya Lori. Memandanginya sesaat itu pula Jendela terkenang akan suatu kesan baik tentang sahabatnya ini, satu sikap yang tipikal Lori, 'aneh' namun berkesan pada tahap renungan yang lebih khusyuk.
Dadah. pada akhir perjumpaan manusia, tak ada yang baru memang pada kebiasaan ini. Dadah adalah hal yang biasa, lazim. satu salam yang sudah turun temurun, satu salam perpisahan yang berlaku juga di belahan dunia lain. lantas apa yang membuat Jendela, pemuda berusia hampir seperempat abad ini, berkesan?
Lebih dari seminggu yang lalu, kekasih Lori, Jaka, yang juga teman dari Jendela, datang menemuinya. Ia ingin bercerita suatu hal pada Jendela, tentang Lori. Walau status Jendela dan Lori hanya berteman, mereka memiliki hubungan yang lebih lama dari Jaka, 7 tahun, sedang Jaka dan Lori baru saling mengenal 3 bulan.
Jaka menanyakan soal 'keanehan' Lori, tentang kerapnya Lori melakukan dadah, mulai dari momen sederhana yang acap nan wajar, seperti, akhir percakapan di telepon, momen mengantar pulang ke rumah, pergi ke kampus, kantor, salon, tempat yoga, sampai pada yang satu ini, yang mungkin akan terdengar menggelikan, ke toilet! ketika Jaka mengantarnya buang air kecil!. Lori Selalu menghadirkan salam itu di setiap perpisahan dalam momen apapun.
Mendengarnya, Jendela tidak terlampau kaget. Ia tahu kebiasaan sahabatnya itu, walau tahu bukan berarti memahami. Yah, karena mereka memang sudah saling mengenal, luar dalam.
Tatapannya terfokus pada wanita di depannya, wanita yang pelan-pelan menjauh dari tempatnya berdiri. Wanita itu akan pergi, mungkin memang tidak terlalu jauh dan mungkin tidak terlalu lama, Jogja, kota yang ia tuju, tentu bisa ditempuh beberapa jam saja dari Jakarta. Namun dalam sebuah perpisahan, yang senantiasa berat kita tinggalkan bukanlah wujud, karena seribu wujud bisa saja datang, melainkan kenangan. Segala kenangan tentangnya yang membuat perpisahan ini terasa lain bagi Jendela.
Gloria, sahabatnya. Jendela biasa memanggilnya Lori. Memandanginya sesaat itu pula Jendela terkenang akan suatu kesan baik tentang sahabatnya ini, satu sikap yang tipikal Lori, 'aneh' namun berkesan pada tahap renungan yang lebih khusyuk.
Dadah. pada akhir perjumpaan manusia, tak ada yang baru memang pada kebiasaan ini. Dadah adalah hal yang biasa, lazim. satu salam yang sudah turun temurun, satu salam perpisahan yang berlaku juga di belahan dunia lain. lantas apa yang membuat Jendela, pemuda berusia hampir seperempat abad ini, berkesan?
Lebih dari seminggu yang lalu, kekasih Lori, Jaka, yang juga teman dari Jendela, datang menemuinya. Ia ingin bercerita suatu hal pada Jendela, tentang Lori. Walau status Jendela dan Lori hanya berteman, mereka memiliki hubungan yang lebih lama dari Jaka, 7 tahun, sedang Jaka dan Lori baru saling mengenal 3 bulan.
Jaka menanyakan soal 'keanehan' Lori, tentang kerapnya Lori melakukan dadah, mulai dari momen sederhana yang acap nan wajar, seperti, akhir percakapan di telepon, momen mengantar pulang ke rumah, pergi ke kampus, kantor, salon, tempat yoga, sampai pada yang satu ini, yang mungkin akan terdengar menggelikan, ke toilet! ketika Jaka mengantarnya buang air kecil!. Lori Selalu menghadirkan salam itu di setiap perpisahan dalam momen apapun.
Mendengarnya, Jendela tidak terlampau kaget. Ia tahu kebiasaan sahabatnya itu, walau tahu bukan berarti memahami. Yah, karena mereka memang sudah saling mengenal, luar dalam.
Jendela tak tahu apakah ada lagi yang pernah menanyakan hal ini kepada Lori, tentang kenapa Ia kerap melakukannya, terakhir Jendela meledek kebiasaannya, yang bagi Jendela dan teman-temannya, 'aneh' itu, Ia hanya membalasnya dengan tawa kecil. Selalu.
Sampai hari itu tiba..satu momen yang mungkin tidak memberikan pemahaman yang utuh, tapi cukup untuk membuat Jendela berhenti bertanya lagi..
5 tahun lalu, saat Jendela dan Lori masih duduk di bangku SMA. Mereka mendapat Ujian hidup yang besar, kehilangan salah satu kawan baik untuk selamanya.
Sampai hari itu tiba..satu momen yang mungkin tidak memberikan pemahaman yang utuh, tapi cukup untuk membuat Jendela berhenti bertanya lagi..
5 tahun lalu, saat Jendela dan Lori masih duduk di bangku SMA. Mereka mendapat Ujian hidup yang besar, kehilangan salah satu kawan baik untuk selamanya.
Jendela, Lori dan kawan-kawannya yang lain pun pergi mengantarkan kawan baik mereka itu ke tempat peristirahatannya yang terakhir, ke alam keabadian nun jauh di sana, mereka semua menangis, berduka. Ditinggal selamanya oleh orang yang sudah menjadi bagian dari hidup, memang tidak pernah mudah, waktu pun tak akan bisa menyembuhkannya, waktu hanya akan membuat kita terbiasa lalu berdamai dengannya.
Tapi Jendela lihat sesuatu yang lain pada Lori. Lori banyak diam. Tak banyak air mata. Sesekali saja ia lihat sahabatnya itu memejamkan mata, untuk mencegah air matanya mengalir jatuh dari mata sipitnya yang tampak sedikit berkaca-kaca. Terlihat keharuan itu, tapi dia berusaha untuk meredam sedihnya.
lama mereka di sana. Saat orang satu per satu pulang, mereka tak juga beranjak. Sampai sepi, dan tersisa hanya Jendela dan Lori saja di sana..
Tapi Jendela lihat sesuatu yang lain pada Lori. Lori banyak diam. Tak banyak air mata. Sesekali saja ia lihat sahabatnya itu memejamkan mata, untuk mencegah air matanya mengalir jatuh dari mata sipitnya yang tampak sedikit berkaca-kaca. Terlihat keharuan itu, tapi dia berusaha untuk meredam sedihnya.
lama mereka di sana. Saat orang satu per satu pulang, mereka tak juga beranjak. Sampai sepi, dan tersisa hanya Jendela dan Lori saja di sana..
"ayo kita pulang Ri", sejenak dia diam.."duluan De, sebentar aku menyusul". Jendela pun beranjak lebih dulu, dari kejauhan Jendela melihatnya, Ia melambaikan tangannya ke arah batu nisan itu. Lori melakukannya lagi. Sebuah salam perpisahan. Sebuah dadah.
Ada nada yang mengalun indah dari semua 'kekonyolan' ini, bagi Jendela. Lori, melakukannya setiap saat pada tiap perpisahan, pada tiap akhir perjumpaan, tak peduli rentang waktu, baik yang sesaat hingga tak bisa disebut sebagai suatu perpisahan yang utuh, sampai pada perpisahan yang benar sebuah perpisahan, yang tak menghadirkan perjumpaan lagi di kemudian. Satu perpisahan yang selamanya. Antara yang hidup dan mati.
Lori dan dadah. Dua hal yang saling menjaga, tak khianat, setia, menyatu. kalau kau pernah mendengar bahwa tak ada yang lebih indah dari sebuah puisi, pun begitu, Lori dan dadahnya di mata Jendela. Mereka adalah sebuah puisi itu sendiri. Satu sisi membingungkanmu, di sisi lain ia memeperkayamu.
Ada nada yang mengalun indah dari semua 'kekonyolan' ini, bagi Jendela. Lori, melakukannya setiap saat pada tiap perpisahan, pada tiap akhir perjumpaan, tak peduli rentang waktu, baik yang sesaat hingga tak bisa disebut sebagai suatu perpisahan yang utuh, sampai pada perpisahan yang benar sebuah perpisahan, yang tak menghadirkan perjumpaan lagi di kemudian. Satu perpisahan yang selamanya. Antara yang hidup dan mati.
Lori dan dadah. Dua hal yang saling menjaga, tak khianat, setia, menyatu. kalau kau pernah mendengar bahwa tak ada yang lebih indah dari sebuah puisi, pun begitu, Lori dan dadahnya di mata Jendela. Mereka adalah sebuah puisi itu sendiri. Satu sisi membingungkanmu, di sisi lain ia memeperkayamu.
"Deeeeeeeee!!!", Jendela terbangun dari lamunannya, ia melihat sahabatnya berdiri tepat di depan pintu kereta, kereta yang akan membawanya ke kota yang sangat ia sukai, Jogja. Lori menatap Jendela dengan seluruh badannya, hingga mereka berhadap-hadapan dengan sempurna.
Di tengah keterburuannya, Lori kembali melakukannya, lagi. Dengan senyum meneduhkan yang tak pernah lepas dari bibirnya. Sikap yang sangat tipikal dirinya, yang akan selalu Jendela kenang darinya selama
hidup. Sebuah salam perpisahan yang selalu diajarkan orang tua jendela sewaktu ia kecil dulu. Satu salam perpisahan yang akan sangat dimengerti dengan bahasa apapun. Satu salam perpisahan yang biasa kita sebut dengan dadah.
"dadaaaaah Deeeee, sampai jumpa lagiii!". Jendela pun sontak membalas dadahnya.
Mereka pun berpisah..
Dalam perjalanan pulang, Jendela banyak berpikir, kenapa satu hal yang pernah dianggapnya 'konyol' ini, mendapat ruang yang besar tidak hanya dalam ruang pikirnya, namun juga di hati.
hidup. Sebuah salam perpisahan yang selalu diajarkan orang tua jendela sewaktu ia kecil dulu. Satu salam perpisahan yang akan sangat dimengerti dengan bahasa apapun. Satu salam perpisahan yang biasa kita sebut dengan dadah.
"dadaaaaah Deeeee, sampai jumpa lagiii!". Jendela pun sontak membalas dadahnya.
Mereka pun berpisah..
Dalam perjalanan pulang, Jendela banyak berpikir, kenapa satu hal yang pernah dianggapnya 'konyol' ini, mendapat ruang yang besar tidak hanya dalam ruang pikirnya, namun juga di hati.
Dalam hati kecilnya ia bertanya, itukah dadah terakhir Lori padanya? apakah pertemuan itu adalah yang terakhir di antara mereka? Ia tak tahu, namun ada sedikit lega di hatinya. Karena ia masih sempat berpikir, membalas dadah sahabatnya itu.
"what would you do if you knew that you had less than a minute to live?", tanya seorang kapten Colter Stevens pada Christina Warren, "I'd make those seconds count", jawab Christina.
"what would you do if you knew that you had less than a minute to live?", tanya seorang kapten Colter Stevens pada Christina Warren, "I'd make those seconds count", jawab Christina.
Percakapan ini memang hanya rekaan dalam sebuah film, tapi mungkin kita pun akan berpikir sama, karena kita tidak tahu, kita tidak akan pernah tahu berapa lama kita dikaruniai kesempatan. Seperti sebaris puisi Chairil Anwar, "waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu".
Langganan:
Postingan (Atom)

















