Senin, 12 Desember 2011

Surat Elektronik.

Entah sudah berapa huruf, yang tak disatukan menjadi kata, entah sudah berapa kata yang di-tidak-jadi-kan menjadi kalimat, dan entah sudah berapa banyak kalimat yang tiap katanya terhapus, dipaksa-hilangkan, satu demi satu huruf, hingga kembali seperti semula..kosong, putih.

Dia memandangi detak detik dalam jam dinding, yang terpasang tepat di hadapnya, detik yang berjalan  cepat, sekelebat, tak terlihat. Sebenarnya tentang waktu yang bergerak cepat ini, sudah acap mampir ke alam pikirnya berulang-ulang, saat Ia menepi dari pusat dunia, menyendiri. Satu yang di luar jangkauan, yang acap berwujud pertanyaan, tapi anehnya cukup jarang melahirkan jawaban. Berlalu begitu saja, untuk kemudian hadir lagi, dipikirkan lagi, dipertanyakan lagi..dan mungkin tetap tanpa jawaban lagi.

Berulang kali Ia coba merangkai kata, menjadikannya tak hanya sekedar kalimat cantik, yang berdiri sendiri-sendiri, tapi satu cerita. Berulang kali pula Ia menemui kesulitan. Pikirannya terlampau bercabang, tak fokus, dan imajinasinya lahir lemah, layu, mati.

Lama Ia terdiam, dan seperti kata orang-orang, pada saat kau tak melakukan apa-apa selain diam, tanpa kau sadari detik-detik dengan kejamnya yang diam-diam pula, menggerogoti sisa-sisa waktu hadirmu di dunia.

Di antara kesunyian, Suara Jens Martin Lekman, Seorang Swedia yang sesungguhnya tidak pernah Ia jumpai, seketika saja hadir dengan alunan nada yang hadir bagai pelukan, pelukan hangat bagi mereka yang berumah di malam-malam sepi. 

tak seberapa keras... tak seberapa pelan..

"but are birthdays happy
or are they just countdown to death?
is there need to worry
there might not be much time left?
I haven't lived my life yet

Then it happens
it just blows your mind
the madness of your life..."


Kini...detik-detik telah menghadirkannya hari yang lain dari sebelumnya. Senin, 12 Desember 2011, dan bebunyian yang keluar dari laptop yang menemaninya sedari tadi, sudah cukup membangunkannya dari tidur yang sesaat. 

Sebuah surat elektronik, yang biasa kita akrabi dengan bahasa yang lebih mendunia, E-mail. Dengan kesadaran yang seadanya Ia buka surat itu, dan mendapati sebaris tulisan yang Ia buat sendiri, tepat setahun yang lalu..

"kepada diriku di masa depan...dan lagi, kau kian dekat ke hari akhirmu yang entah kapan, kawan".



*Soal surat elektronik itu, yang kita kirim untuk diri kita sendiri, di masa yang lain, tak usah ada kerut dahi, pusing-pusing...ini memang sedang zamannya. *

1 komentar: