Senin, 14 November 2011

Lori, Sebuah Dadah.

Jendela, berdiri di antara jejal manusia, mereka yang berkejaran dengan waktu, yang penuh peluh dalam pencarian nafkah, atau mereka yang menunggu atau sekadar duduk-duduk saja di sana, di statiun kereta, di sore hari itu. 

Ada satu guyonan menarik tentang kerumunan manusia "burung-burung yang terbang lebih tinggi, tariannya akan terlihat lebih anggun, karena yang mereka lihat adalah indah kebersatuan manusia, tapi ketika burung-burung itu terbang lebih rendah, mendekat, mereka seperti ketakutan karena ternyata yang ada hanya individu-individu berwajah kusut dengan ragam masalah".


Tatapannya terfokus pada wanita di depannya, wanita yang pelan-pelan menjauh dari tempatnya berdiri. Wanita itu akan pergi, mungkin memang tidak terlalu jauh dan mungkin tidak terlalu lama, Jogja, kota yang ia tuju, tentu bisa ditempuh beberapa jam saja dari Jakarta. Namun dalam sebuah perpisahan, yang senantiasa berat kita tinggalkan bukanlah wujud, karena seribu wujud bisa saja datang, melainkan kenangan. Segala kenangan tentangnya yang membuat perpisahan ini terasa lain bagi Jendela.


Gloria, sahabatnya. Jendela biasa memanggilnya Lori. Memandanginya sesaat itu pula Jendela terkenang akan suatu kesan baik tentang sahabatnya ini, satu sikap yang tipikal Lori, 'aneh' namun berkesan pada tahap renungan yang lebih khusyuk.


Dadah. pada akhir perjumpaan manusia, tak ada yang baru memang pada kebiasaan ini. Dadah adalah hal yang biasa, lazim. satu salam yang sudah turun temurun, satu salam perpisahan yang berlaku juga di belahan dunia lain. lantas apa yang membuat Jendela, pemuda berusia hampir seperempat abad ini, berkesan?


Lebih dari seminggu yang lalu, kekasih Lori, Jaka, yang juga teman dari Jendela, datang menemuinya. Ia ingin bercerita suatu hal pada Jendela, tentang Lori. Walau status Jendela dan Lori hanya berteman, mereka memiliki hubungan yang lebih lama dari Jaka, 7 tahun, sedang Jaka dan Lori baru saling mengenal 3 bulan.


Jaka menanyakan soal 'keanehan' Lori, tentang kerapnya Lori melakukan dadah, mulai dari momen sederhana yang acap nan wajar, seperti, akhir percakapan di telepon, momen mengantar pulang ke rumah, pergi ke kampus, kantor, salon, tempat yoga, sampai pada yang satu ini, yang mungkin akan terdengar menggelikan, ke toilet! ketika Jaka mengantarnya buang air kecil!. Lori Selalu menghadirkan salam itu di setiap perpisahan dalam momen apapun.


Mendengarnya, Jendela tidak terlampau kaget. Ia tahu kebiasaan sahabatnya itu, walau tahu bukan berarti memahami. Yah, karena mereka memang sudah saling mengenal, luar dalam. 

Jendela tak tahu apakah ada lagi yang pernah menanyakan hal ini kepada Lori, tentang kenapa Ia kerap melakukannya, terakhir Jendela meledek kebiasaannya, yang bagi Jendela dan teman-temannya, 'aneh' itu, Ia hanya membalasnya dengan tawa kecil. Selalu.


Sampai hari itu tiba..satu momen yang mungkin tidak memberikan pemahaman yang utuh, tapi cukup untuk membuat Jendela berhenti bertanya lagi..


5 tahun lalu, saat Jendela dan Lori masih duduk di bangku SMA. Mereka mendapat Ujian hidup yang besar, kehilangan salah satu kawan baik untuk selamanya. 

Jendela, Lori dan kawan-kawannya yang lain pun pergi mengantarkan kawan baik mereka itu ke tempat peristirahatannya yang terakhir, ke alam keabadian nun jauh di sana, mereka semua menangis, berduka. Ditinggal selamanya oleh orang yang sudah menjadi bagian dari hidup, memang tidak pernah mudah, waktu pun tak akan bisa menyembuhkannya, waktu hanya akan membuat kita terbiasa lalu berdamai dengannya.


Tapi Jendela lihat sesuatu yang lain pada Lori. Lori banyak diam. Tak banyak air mata. Sesekali saja ia lihat sahabatnya itu memejamkan mata, untuk mencegah air matanya mengalir jatuh dari mata sipitnya yang tampak sedikit berkaca-kaca. Terlihat keharuan itu, tapi dia berusaha untuk meredam sedihnya.


lama mereka di sana. Saat orang satu per satu pulang, mereka tak juga beranjak. Sampai sepi, dan tersisa hanya Jendela dan Lori saja di sana..

"ayo kita pulang Ri", sejenak dia diam.."duluan De, sebentar aku menyusul". Jendela pun beranjak lebih dulu, dari kejauhan Jendela melihatnya, Ia melambaikan tangannya ke arah batu nisan itu. Lori melakukannya lagi. Sebuah salam perpisahan. Sebuah dadah.


Ada nada yang mengalun indah dari semua 'kekonyolan' ini, bagi Jendela. Lori, melakukannya setiap saat pada tiap perpisahan, pada tiap akhir perjumpaan, tak peduli rentang waktu, baik yang sesaat hingga tak bisa disebut sebagai suatu perpisahan yang utuh, sampai pada perpisahan yang benar sebuah perpisahan, yang tak menghadirkan perjumpaan lagi di kemudian. Satu perpisahan yang selamanya. Antara yang hidup dan mati.


Lori dan dadah. Dua hal yang saling menjaga, tak khianat, setia, menyatu. kalau kau pernah mendengar bahwa tak ada yang lebih indah dari sebuah puisi, pun begitu, Lori dan dadahnya di mata Jendela. Mereka adalah sebuah puisi itu sendiri. Satu sisi membingungkanmu, di sisi lain ia memeperkayamu.


"Deeeeeeeee!!!", Jendela terbangun dari lamunannya, ia melihat sahabatnya berdiri tepat di depan pintu kereta, kereta yang akan membawanya ke kota yang sangat ia sukai, Jogja. Lori menatap Jendela dengan seluruh badannya, hingga mereka berhadap-hadapan dengan sempurna.

Di tengah keterburuannya, Lori kembali melakukannya, lagi. Dengan senyum meneduhkan yang tak pernah lepas dari bibirnya. Sikap yang sangat tipikal dirinya, yang akan selalu Jendela kenang darinya selama
hidup. Sebuah salam perpisahan yang selalu diajarkan orang tua jendela sewaktu ia kecil dulu. Satu salam perpisahan yang akan sangat dimengerti dengan bahasa apapun. Satu salam perpisahan yang biasa kita sebut dengan dadah.


"dadaaaaah Deeeee, sampai jumpa lagiii!". Jendela pun sontak membalas dadahnya.


Mereka pun berpisah..


Dalam perjalanan pulang, Jendela banyak berpikir, kenapa satu hal yang pernah dianggapnya 'konyol' ini, mendapat ruang yang besar tidak hanya dalam ruang pikirnya, namun juga di hati. 

Dalam hati kecilnya ia bertanya, itukah dadah terakhir Lori padanya? apakah pertemuan itu adalah yang terakhir di antara mereka? Ia tak tahu, namun ada sedikit lega di hatinya. Karena ia masih sempat berpikir, membalas dadah sahabatnya itu.


"what would you do if you knew that you had less than a minute to live?", tanya seorang kapten Colter Stevens pada Christina Warren, "I'd make those seconds count", jawab Christina. 

Percakapan ini memang hanya rekaan dalam sebuah film, tapi mungkin kita pun akan berpikir sama, karena kita tidak tahu, kita tidak akan pernah tahu berapa lama kita dikaruniai kesempatan. Seperti sebaris puisi Chairil Anwar, "waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar